Bismillah...
Seringkali, saya mendapat Undangan yang sekian lama saya anggurin. Bukannya saya sombong, tapi supaya agak aman saja menerima permintaan pertemanan atau persahabatan yang masih minim informasinya
Jadi sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesarnya.
Kamis, 12 Maret 2009
Mohon Maaf Jika Belum Saya Terima
Rabu, 11 Maret 2009
20 Juta. Dari Mana?
Bismillah…
“Iya, Pak. InsyaAlloh.”, jawab Hamdi lirih. Kata-katanya terdengar tak sesemangat, bahkan tak terpancar semangat sama sekali, dibanding beberapa waktu yang lalu. Lidahnya sudah tak bisa lagi berkata lain selain itu. Talenta kata –kata yang biasanya teramat lancar berorasi atau melobi di masa-masa mahasiswa yang baru saja terlewatinya, menguap entah ke mana. “Insya Alloh.”, lanjutnya seakan tak ingat apa yang dikatakannya. “Saya akan usahakan, Pak.”, tak yakin.
“Baik kalau begitu, Dek Hamdi. Bapak tunggu dalam dua minggu ini, ya.” Subhanalloh . Dua minggu. Uang dari mana? Astaghfirulloh. “Lebih cepat lebih baik. Biar kami bisa mempersiapkannya lebih awal.”
Klik. Suara horn telepon yang ditutup di seberang sana, terdengar seakan palu vonis yang menghentak lantak hati Hamdi. Astaghfirulloh. Kembali dia beristighfar. Matanya menerawang halaman rumah kosannya yang penuh oleh tanaman hias sang pemilik rumah kosan. Hujan sudah berhenti cukup lama. Menyisakan udara yang seharusnya dirasa sejuk untuk seluruh tubuh penghuni mayapada, menyisakan pula embun yang bergelantungan di ujung-ujung dedaunan akasia di pinggir jalan.
“Dek Hamdi,”, kembali terngiang pembicaraan barusan dengan Pak Husnan, ayahanda Kania, “setelah kami hitung-hitung, minimal kita membutuhkan dana tak kurang dari 40 juta.” Deg. Empat puluh juta. “Ya, minimal kita fifty-fifty saja bagaimana? Dek Hamdi sudah mempersiapkannya, kan?” Jdaaarrr… Fifty-fifty? Dua Puluh Juta? Minimal kah itu? Allohu akbar. Tiba-tiba saja dunia terasa sekali putarannya. Dua puluh juta? Apa tak salah hitung? Bukannya ketika ta’aruf dulu sang akhwat hanya meminta walimah yang sederhana saja? Kenapa jadi begini? Ah, ya Robb. Dua puluh juta? Uang dari mana? Mesti mengusahakan ke mana? Pinjam ke siapa? Hamdi duduk terkulai di sofa ruang tengah. Diskusi parpol yang tadi sedang ditontonnya, tak lagi menarik hatinya. Dua puluh juta. Tiba-tiba pening. Pusing.
“Akh, uang 5 juta akan kita usahakan cukup untuk pernikahan ini.”, suara Kania ketika ta’aruf dua pekan yang lampau. Ketika pernikahan sederhana, bahkan teramat sederhana, menjadi sebuah pembahasan yang menyejukkan. “Saya juga ada tabungan sekitar 3 juta. Kita pakai saja.”
“Gimana, akhi?”, Tanya Pak Munandar, suami Pembina Kania. “Sudah tak ada masalah dengan dana sebesar itu, kan?”, senyum itu masih saja teringat di benak Hamdi. Sehelai kesejukan yang mendorong memantapkan. Sementara Kania nampak terus saja menunduk menekuri ubin keramik putih yang nampak baru saja dipel itu. Dan desiran itu, mulai menghinggapi hati Hamdi. Jilbab merah muda itu. Jemari yang saling meremas menggenggam itu. Ah, segera kan kunikahi kau, ukh. Tak kan lama lagi. Tunggu saja.
“Insya Alloh, Pak. Uang itu akan saya usahakan secepatnya.”, mantap. Hamdi berazzam akan memenuhi semua pembiayaan pernikahan ini full dari dirinya. Mahar sudah disiapkan, plus transport keluarga dari Garut ke Depok sudah bisa diukur dan mampu. Beres. Walau mesti jual barang-barang investasi berupa laptop Celeron dan motor jaman baheula-nya, tapi insya Alloh tak masalah sama sekali. Mudah-mudahan ada rizki untuk mendapat penggantinya, secepatnya.
Tapi rupanya Hamdi terlupa. Pernikahan ini bukan semata penyatuan dua insana semata. Ada dua keluarga yang terlibat dan menjadi aktor utama di sana. Dua keluarga. Ya, dua keluarga. Keluarga Hamdi termasuk keluarga yang teramat sederhana. Ayah Hamdi seorang PNS guru yang sebentar lagi kan pensiun, sudah dipastikan tak bisa membantu banyak masalah dana pernikahan ini. Biaya pengobatan ibu yang sakit kanker beberapa bulan yang lalu sudah menguras seluruh tabungan, sawah yang tak seberapa, kebun seuprit dan motor tua keluarga. Tak masalah, yang penting ibu bisa dioperasi dan sembuh. Bagi Hamdi, bisa membereskan kuliah saja sudah merupakan sebuah prestasi luar biasa buat keluarganya. Kalau bukan lelaki, mungkin Hamdi tak akan pernah mengenyam bangku perguruan tinggi.
“Bapak sama Ibu tak bisa mewariskan harta benda ke kamu, Di.”, ujar bapak Hamdi di sebuah pagi, di awal-awal kuliah dulu. “Bapak cuma bisa mengusahakan pendidikan kamu setinggi yang Bapak dan Ibumu mampu.” Duh. Tak tega jika masih harus membebani tubuh yang sudah mulai merenta itu.
Kakak perempuannya? Ah, Hamdi tak mau berharap pada Tetehnya yang sudah begitu payah dengan keuangan keluarganya. Menjadi istri pekerja sebuah pabrik di Bandung, mengharuskan Tetehnya ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan susu dan popok keponakan Hamdi yang baru lahir 6 bulan yang lampau. Hamdi tak tega mesti membebani dengan tambahan beban darinya. Tak akan pernah.
Sedangkan keluarga Kania? Duh, kenapa dia dilupakan akan kondisi keluarga Kania? Sebuah keluarga yang boleh dibilang mapan untuk ukuran Hamdi. Jauh lebih bermampu dari keluarga Hamdi yang udik dan teramat sederhana (untuk tidak dibilang miskin). Dan konsekuensinya tentu, tak ingin merayakan pernikahan putri bungsunya dengan biasa-biasa saja apalagi terkesan kekurangan dana. Apalagi keluraga Kania termasuk keluarga yang cukup besar. Tentu tak ingin malu di hadapan keluarga besar mereka. Duh. Pening. Pusing tujuh keliling.
*****
Bersambung….