Kamis, 18 Desember 2008

Syaraf Terjepit. Ada Informasi Pengobatan?

Bismillah...

Sudah sekitar 5 bulan ke belakang, ibu saya mengeluh sakit di daerah pundak hingga tangan kiri. Awalnya sih, hanya kadang2 saja terasa. Tapi akhir2 ini, semakin sering saja kambuh. Pengobatan sudah dilakukan melalui therapi. Tapi sampai sekarang masih saja belum ada perbaikan kondisi. Menurut analisis dokter, ada syaraf yang terjepit. Hasil MRI menunjukkan ada syaraf terjepit di daerah leher. Dokter pun menyarankan untuk operasi. Tapi setelah browsing2, banyak juga kasus kegagalan dari operasi itu. Peluang keberhasilannya hanya 50% keberhasilan.

Jikalau ada dari rekan MPers yang tahu pengobatan alternatifnya(secara herbal atau tradisional), mohon bantuan informasinya. Nomor yang bisa dihubungi dan pula alamat yang bisa dihubungi. Selain itu, biaya yang diperlukan berapa. Supaya kami bisa ancang2 mempersiapkan. Terima kasih sebelumnya. Mohon sharing juga kalo ada pengalaman. Jazakumulloh khoiron katsiron.

Mohon doa kesembuhan untuk ibu saya juga dari semuanya. Syukron.

*****

Tanto Dikdik Arisandi
081388773143
tantodikdik@yahoo.co.id

Senin, 15 Desember 2008

____________________

Bismillah..

Masih tersendat. Bis yang sedang ditumpangi merayap di tengah berdesakannya kendaraan kota. Senja mulai menggelapkan mayapada. Hujan melengkapinya dengan kepekatan berlebih. Rintik. Gerimis merincik. Kutuliskan di kaca bis mengembun. Kutuliskan sebuah nama diri di sana. Perjalanan apa yang sedang kaulalui? Telah begitu jauh, namun hampa terus saja teraba. Kosong

Kota ini cukup hijau rupanya. Rerumputan dengan pohon berbaris merunduk pada kenikmatan air yang dilimpahkan Sang Penguasa Jagad Raya. Nyiur melambai terpa angin sore yang tak berkeras, lembut. Senja di kota ini, ternyata kumencintainya. Ada undangan dalamnya. Berjalan bukan menghampiri, namun merasuki. "Perjalanan itu tak ke sana, kawan!", bisik akasia pinggir jalan. Kulihat senyumnya di dedaunan mengembang di tengah air yang mulai mengembun. "Hanya saja, ia mesti melaluinya untuk orang sepertimu ini.", kali ini sebuah tiang listrik penyangga berbagai spanduk menambahi. Senja, sekarang kau akan mengatakan apa untukku ini?

Udara menghembus lepas. Kendaraan masih saja menyemut. Seorang ibu bersepeda tua, nampak sumringah telah mendapatkan gas 3 kilo di sadel belakangnya. Menyeberang membelah antrian, dengan senyum di wajah kelelahan. Sisa rintik tak nampak basah di pakaian kemeja dan rok memanjang mata kaki. "Hari ini aku akan masak goreng tahu untuk anak-anak.", mungkin itu di balik senyumnya. Membayang kelima anak, berebut tahu hasil gorengnya malam ini. Bahagia. Dan entah, kebahagiannya kuamanati tercatat hati. Terima kasih, Bunda.. Atas sarana perasaaan ini.

Sedikit lagi bis pun beranjak dari titik mula. Kembali berhenti terutinkan rayapan teramat pelan. Hmm... Kulihat siluet mulut berteriak menerjang di luar sana. Tanpa suara. Terselimuti sebuah suara lebih merdu dari speaker bis di sepanjang badan atapnya. Kedap. Sampai-sampai seruanNya pun tak sedikit pun menghampir. Tuli. Jika kutafsir kota, inilah sumpah serapah. Tapi esensi tak kulihat kini. Secara nyata dari serapah dalam sumpah itu. Aku sedang melakukan perjalanan, kawan. Seperti yang diingatkan akasia padaku. Seperti pula saya mesti melakukannya sebagai saya layaknya tiang listrik berkata.

Menekur lagi. Perjalanan ini, perlu waktu yang lebih panjang rupanya. Teruslah meniti.

*****

Terminal Lebak Bulus
Ahad, 14 Desember 2008
17:32 WIB
selepas ikut berbahagia di walimahan seorang saudara(barokalloh buat Kang Yusuf & Siska).