Jumat, 25 Juli 2008

Masihkah Narsis Setelah Menikah?

Bismillah…

“Sepakat! Cepetan nikah noh, To. Kali aja narsismu sembuh. Ada yang marahin elo, soalnya.”, kira-kira begitu salah satu comment di sebuah jurnal.(Hmmm… Ada yang merasa pernah ngasih comment seperti ini? heuheu.. Ayo ngaku! Yang ngaku dapat doorprize loch.. heuheu.. :) )

“Nggak kebayang ntar yang bakalan jadi istrimu, To. Kuat ngga dia ya, punya suami narsis akut kayak kamu ini? Mendingan kalo ganteng beneran, lah ini?”, busyet! Mendengar pertanyaan ini, membuat saya merasa punya penyakit apaaaaa gitu.. heuheu… :) Penyakit kegantengan kali, ye? Heuheu.. Tau aja, dia… :D

“Ah, kayaknya ngga cocok deh kalau sama ente mah, To. Fulanah kan sholehah. Nah ente? Narsis abizz… “, yaaaa…. Kecewa deh gue.. Masa sih kagak cocok? Hiks… Narsis saya kan, cuma di blog, Mas.. Ane kan, kagak nikah di internet, apalagi nikah dalam blog. Heuheu… (percakapan di sebuah perjalanan dengan seorang ikhwan senior :) )

Ah, jadi kefikiran juga akhirnya. Iya, ya? Gimana reaksi istri kelak, kalau dapet suami yang narsisnya minta ampun? Walau pun saya merasa bahwa narsis saya masih dalam taraf kewajaran(baca: normal. Bener ga seeehh..?? Heuheu… Soalnya, narsisnya kan cuma di blog walau berimbas dikit ke dunia nyata. :) ), tapi ada kekhawatiran juga dalam diri saya bahwa kelak di kemudian hari, akan ada problem menyangkut masalah narsis ini. Bagaimana ya, reaksi istri nanti? Marah kah dia? Atau malah dia menangis bahagia?(hiddih..?) Duh duh duh… malah puyeng nih… Tuing tuing tuing… Mikirnya kejauhan kali, ye? Ah, tapi enggak juga ding… Kan, nikahnya bentar lagi(bentar lagi? Heuheu.. amin deh.. :D )

Ah, tapi itu mah masalah entar lah. Masih ada waktu yang terentang sampai saat beristri tiba. Nah, yang justru mesti saya fikirkan sekarang ini adalah, “Adakah akhowat sholehah, keturunan orang baik-baik, dan tentunya pula cantik jelita nan rupawan yang bersedia dengan suka rela dan ridho seridho-ridhonya menikah dengan ikhwan narsis yang ganteng ini?” :D Halah… Hah, pertanyaan yang berat dijawab. Dan saya pun jadi diingatkan pada sebuah ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Begitu pun sebaliknya, perempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk pula. Hahhhh… Makin terpuruklah diriku. Mampuslah gue! :( Tiba-tiba kok, jadi pesimis gini, ye? Hahh… Di mana posisi baiknya saya, ya? Atau mungkin, malah saya berada dalam posisi laki-laki buruk? Na’udzubillah dah.. Semoga saja tidak. Semoga saja tidak. Amin… Amin… Amiiiiin…..

Oh, atau gini aja deh. Kalo ntar ta’aruf, biar ngga terlalu ketauan narsisnya, saya hide aja ni blog. Ntar di-unhide lagi kalo dah nikah. Heuheu… Bodohnya diriku. Emangnya Alloh kagak tau? Dasar kutukupret lo, To! :p

*****

Ilustrasi cerita :

Sebuah sore yang cerah setelah seorang ikhwan menikah.

“ABAAAAAAAAAAANG!!!”, teriak sang istri ketika melihat suaminya baru pulang kerja. Awalnya, sang suami fikir istrinya itu sedang rindu berat sama dirinya. Tapi setelah melihat raut muka sang istri yang sangar dengan matanya yang melotot, sang suami malah jadi ketakukan gituh. Hiddih? Kesambet jin mana neh istriku?

“Eh, ada apa Dek?”, tanya sang suami hati-hati banget. Soalnya wajah sang istri nampak merah merona gituh. Eh salah ding, merah membara maksudnya. He he.. :)

“Ini blog Abang?”, tanya sang istri galak menunjuk monitor komputer. Deg. Dengan menahan-nahan debaran jantung yang semakin cepat memompa, sang suami pun melongokkan pandangannya ke arah monitor komputer. Bujug, dah.. Beneran ketauan. Mampus dah gue! Padahal baru pagi tadi sang suami meng-unhide-nya.

“Jadi, beneran ini blog Abang?”, suara sang istri semakin meninggi. “Beneran?”

Waduh? Gaswat nih. Asli gaswat. Mesti mengeluarkan jurus sakti mandraguna. Walah walah.. salah. Jangan pake jurus mandraguna deng, entar malah makin runyam. Pake jurus TomCruise-guna aja dah. Biar maknyossss.. heuheu… Maka kemudian, sang suami pun mengeluarkan cengiran mautnya. Sebuah cengiran andalan yang jadi salah satu senjata andalannya ketika ta’aruf dulu kala. Dengan harap marah sang istri meleleh mencair. Heuheu..

“He heh.. Iya, Dek.”, sang suami terus nyengir dengan manisnya(jurus TomCruise-guna, -red). “Bagus kan, Dek?”

“Aaaaapa? Baaaagus? Bagus embah lo? Nggak mau tau! Pokoknya blog ini harus dihapus sekarang juga! Tiiiitik!”, ancam sang istri dengan kedua tangan bersedekap rapat di dada. “Kalo enggak, Adek minta cerAAAAAAAAAAAAIIII!!!!!”, teriak sang istri histeris.

“Waduh waduh? Minta selai?”, sang suami malah bingung. Kok, tiba-tiba marah lantas minta selai? Ih, kenapa sih ni istriku? Aneh deh.. Dan fikiran sang suami pun coba menyelami lebih dalam fenomena itu sejenak. Dan tiba-tiba saja, terbetik sebuah hipotesa yang membuat raut muka sang suami jadi cerah bersinar. Binarnya bahkan sampai mampu mengalahkan sinar mentari di malam hari. Halah…“Waaaaaahh… Adek lagi ngidam selai, ya ? Jadi…. jadi Adek lagi hamil, ya? Beneran? Udah dites kehamilan? Udah berapa bulan, Dek?”, sang suami antusias ngga karuan gitu. Sang istri yang lagi marah malah bengong. Ni orang kesambet jin dari mana?

“Bentar Abang beliin ke warung depan, ya. Nggak lama, kok.”, sang suami menyeret kursi ke arah sang istri. “Tunggu di sini, ya. Duduk yang tenang. Jangan banyak fikiran. Abang ke warung dulu. Horeeeeeee…..”, dengan berjoged-joged, sang suami langsung melesat ke arah warung Mak Ijah.

Sang istri.. AAAAAAAAAAARRRRGGGGGHHHH…..!!!!!! TIDAAAAAAAAAAAAAKKK…!!!!

Tapi belum lama berselang, sang suami sudah nongol dari balik pintu. “He he… lupa. Abang ngga bawa uang.”, cengiran khas yang entah apa dasarnya, sang suami menyebutnya dengan senyuman termanis sedunia. “Uangnya dong, Dek.”

Dan sang istri pun dengan sangat sukses, pingsan.

“Waduh waduh? Kok malah tidur, Dek?”

Heuheu… TAMAT deh.. :D

*****

Hayooo… apa hikmah yang terkandung dalam cerita di atas? Ayooo.. yang tau ngacung..! :D

*****

Rabu, 23 Juli 2008

Demi Sebuah Comment?

Bismillah…

“Ah, udah ngga semangat. Sepi terus sih blognya. Jadi males.”, jawab seorang teman yang selalu saja posting puisi di MPnya itu. Ketika saya terakhir tengok ke MPnya, sudah sangat lama tidak di-update. Kenapa? Itu pertanyaan saya yang dijawab dengan alasan di atas.

“Kayaknya, ngga ada gunanya saya bikin blog. Ga ada yang baca sepertinya.”, kata seorang teman yang lain, yang memutuskan menghapus blog account-nya di blogger.com.

“Sudah pasang layanan penghitung statistik pengunjung?”, tanya saya.

“Enggak sih.”, jawabnya sembari membetulkan letak duduknya.

“Lantas kok tau ga ada yang baca?”

“Soalnya ngga ada yang ngasih komentar, sih.” Ooohh…

Persis seperti alasan saya dulu kala. Saya punya blog di blogger.com, yang sampai saat ini masih ada, yang sungguh serasa kuburan angker. Sepiiiii banget. Minim(untuk tidak dibilang tak ada) komentar hingga saya pun secara otomatis menyangka bahwa tak ada atau minim sekali pengunjung. Dan baru ketahuan berapa pengunjung blog saya setelah empat bulan terakhir saya pasang layanan pihak ketiga berupa penghitung statistik. Dan jumlah pengunjungnya, tak terlalu mengecewakan. Ha hah… Walau pun setelah dilihat durasi kunjungannya, ternyata banyak sekali yang hanya dalam hitungan detik, tak sampai satu menit. Wah wah wah… berarti tulisan saya ngga dibaca, neh. Gimana mau komentar kalau membacanya saja tidak tertarik? Hmmmm…

Yah.. Dari sini, saya pun jadi ikut-ikutan bertanya, apa sih arti comment bagi seorang blogger?

Dan setelah memperhatikan beberapa blog, ternyata saya dapat menyimpulkan ada beberapa hal yang membuat blog ramai dikunjungi dan dikomentari atau tidak. Setidaknya ini yang saya bisa simpulkan. Semoga ada yang berkenan menambahkan.

1. Aktif berkomentar di blog yang lain. Secara tak langsung, dengan kita berkomentar di blog orang lain, maka kita sedang melakukan proses marketing atas blog kita. Dan secara naluri, orang yang dikunjungi tentunya ingin tahu siapa yang mengunjunginya. Dan berkunjunglah ia ke blog kita. Maka tak anehlah jika kita melihat sangat seringnya para blogger yang saling balas mengunjungi. Dan besar kemungkinan, postingannya (minimal) dikunjungi. Dan biasanya akan pula terdorong untuk memberi komentar, dan boleh sangat jadi untuk kemudian bisa jadi sohib on the blog getuh dah.. :)

2. Jangan pelit me-reply comment yang masuk. Kalau mau diibaratkan, para pengunjung blog kita adalah tamu di rumah kita. Sebagaimana galibnya tamu, tentu kita mesti menjamunya secara layak. Kalau dalam dunia blog, salah satu bentuk jamuannya adalah me-reply komentar yang masuk. Saya fikir, ini sangat penting. Jangan pernah menganggap sebuah komentar yang masuk sebagai sesuatu yang tak ada artinya. Itu sangat-sangat berarti. Boleh-boleh saja sih, meminta untuk tidak asal berkomentar. Tapi tentunya dengan cara yang elegan pula.

3. Judul yang bikin penasaran. Walau pun saya tak kenal dengan sang blogger, tapi ketika saya melihat sebuah judul yang membuat penasaran, secara naluri saya pun tergoda untuk meng-kliknya. Walau pun kemudian isinya kurang menarik dan memutuskan untuk tidak membaca secara utuh, tapi setidaknya postingan kita akan memiliki peluang untuk dibaca lebih besar.

4. Isi yang bagus. Tentu saja judul hanyalah pintu gerbang dari sebuah isi. Bermanfaat, menghibur(ini yang paling banyak dicari, setidaknya menurut saya), mencerahkan, kontroversial, dan yang sejenisnya merupakan ciri bagi sebuah isi blog yang bagus. Menurut saya pribadi, orang lebih suka membaca atau melihat segala sesuatu yang bersifat pribadi bagi sang pemilik blog. Entah itu pemikiran pribadi, perasaan pribadi, kegiatan pribadi, atau cara pandang pribadi terhadap segala sesuatu. Dengan kata lain, sebagaimana blog pada awalnya diperuntukkan, blog akan menarik jika merupakan pribadi dari sang pemilik blog. Dan satu hal lagi yang saya lihat, hal-hal yang serius dan idealis banget dalam blog kurang begitu diminati. Sepanjang yang saya simpulkan sekarang, para blogger aktif dalam dunia blog ‘hanya’ untuk refreshing(yang mudah-mudahan juga dapat bonus ilmu dan jaringan). (Itu mah, elo aja kali, To..?! Ah, masa sih? Heuheu… :p)

5. Isi jurnal tak terlalu panjang. Biasanya sih, saya cukup malas juga membaca jurnal yang panjang-panjang. Terkecuali kalo memang tuh jurnal menarik abiz.. Jumlah kata yang saya fikir pas untuk sebuah jurnal di blog, berkisar antara 400 sampai 600 kata saja.

6. Headshot cantik dan tampan. Tak bisa dipungkiri bahwa orang akan sangat semangat untuk mengunjungi blog yang dimiliki oleh seorang yang cantik(terutama bagi blogger yang laki-laki. Bener ga seeeeehh…??? Heuheu…) dan seorang yang tampan(terutama bagi blogger yang perempuan. Ehm ehm… ooo jadi itu toh alesan kalian rajin ngunjungin blog sayah… haahah… :) wewewedotgeerdotcom). Makanya, tampilkan

7. Kopi darat. Jika mengamati beberapa blog yang ramai, kita dapat menarik satu pola dan kesamaan dari setiap pengunjung dan yang berkomentar. Ya, hampir bisa dipastikan, yang berkunjung dan berkomentar adalah yang itu itu juga. Dan ketika ditelusuri lebih jauh(tsahhh…), ternyata banyak dari mereka yang dipersatukan dengan apa yang bernama kopi darat. Setelah acara kopi darat, biasanya terjalin sebuah hubungan yang lebih erat dari para blogger tersebut.

8. Marketing yang gencar. Hal yang satu inilah sangat penting dilakukan. Walaupun kita melakukan banyak hal yang menarik dengan blog kita, tapi jika kita tidak memasarkannya, maka kecil kemungkinan blog kita akan ramai dikunjungi, apalagi dikomentari. Dan inilah salah satu kelebihan dari multiply yang secara otomatis memberitahukan pada MPers yang lain tentang up-date-an blog kita. Hal ini jauh lebih susah bagi blogger yang di blogspot atau blogdrive.

9. Apa lagi ya? Heuheu.. silakan lah menambahkan… Saya sudah mumet. Heuheu… :)

Memang, blog yang ramai komentar tidak otomatis menunjukkan bahwa blog tersebut bagus secara artikel atau isi yang lain. Walau pun begitu, setidaknya blog tersebut memiliki kemungkinan besar untuk dibaca dan mempengaruhi para pembacanya tersebut. Dan yang pasti, sang pemilik blog terindikasi memiliki teman yang banyak yang dengan kata lain mempunyai jejaring blog yang cukup luas dan diakui. Dan bagi saya, fasilitas comment merupakan fasilitas paling menarik dari aktivitas blogging. Dan ini menurut saya, ini sangatlah wajar. Wajar mengingat blogger juga adalah manusia sosial yang gemar berinteraksi. :) Dan yang jauh lebih pasti lagi, blog tersebut akan lebih cepat habis jatah benwic-nya. Haahah.. :) (BTW, kapasitas muat MP tuh, berapa ya? Hmmm…)

*****

Pertanyaan mendasar : “Apa niatan kita ber-blog ria? Jejaring? Komentar? Atau kah hendak menyampaikan sesuatu yang dirasa perlu bahkan harus disampaikan? Atau atau yang lain? Karena memang niat lah yang menjadi fondasi dari segala sesuatu.” Soknyadirikumuncullagihdotcom haahah… :p Selamat ber-blog ria. Enjoy..!! :)

Senin, 21 Juli 2008

Naksir Guru

Bismillah…

“Pak, minta nomor HP-nya dunks.”, pinta Sandra(bukan nama sebenarnya-red), seorang siswi kelas 8, dengan manjanya pada sang guru baru itu. Sang guru pun, yang notabene masih bujang itu, mengetikkan nomornya di HP sang siswi.
Hari-hari pun berlanjut. Dan selama itu pula lah nomor sang siswi sering sekali terlaporkan melakukan misscall di layar HP sang guru baru. Nih anak, kenapa pula? Tanya sang guru dalam hati. Yang di kemudian hari diketahui, di phonebook Sandra, identitas sang guru diberi nama “Yayank”. Nah loh? :) hingga tiba di sebulan berselang, ibu sang siswi secara khusus minta sang guru itu untuk bicara secara pribadi. Kenapa? Karena sang ibu sering sekali membaca buku harian Sandra, dan tema diary-nya tiada lain berisi curahan perasaan Sandra pada sang guru itu. “I love u, Pak. Rindu deh, senyum Bapak itu loch..” Heuheu… :) Ajib dah… Jadi penasaran, kayak apa sih tampang sang guru baru itu? Halah.. kagak penting!! Yang penting mah, Sandra emang cantik. Nah loh? Maksudnya ke mane, neh? Heuheu…
Pernah mengalami hal seperti di atas? Heuheu… Naksir, jatuh cinta, suka sama guru bukan menjadi hal yang baru dalam kehidupan per sekolahan. Ketika saya SMA dulu, ada seorang guru cantik yang jadi ‘idola’ para murid laki-laki. Padahal tuh guru sudah menikah dalam hitungan bulan ke belakang. Bahkan saya sempat tak percaya juga ketika seorang teman melayangkan sepucuk surat bersampulkan merah jambu dan wangi pula. Halah.. “Walau pun ibu sudah menikah, izinkan saya untuk sekedar menjadi penggemar setia ibu.”, itulah penggalan surat yang sempat terbaca. Hiddih? Ampun dah.. Untung aja kagak dilaporin ke BP dengan dalih terindikasi percobaan perselingkuhan.
Dan sangat sering sekali saya nimbrung di ajang ngerumpinya para cewek-cewek ketika SMP dan SMA, dan temanya adalah “Guru Ganteng”. Ckckckckck… Mereka rupanya belum sadar, bahwa teman mereka yang suka ikut nimbrung(bisa dibaca pula: nguping) itu, kegantengannya bukan sekedar sudah lulus SNI, tapi sudah lulus ISO kelayakan tampang tingkat internasional. Haaahahahah… :p Cuma karena khawatir terlalu terkenal saja, sang penguping itu tak mendaftarkan diri dalam ajang pemilihan Mister World. Heuheu… Pret…
Yah yah yah… Masa-masa puber memang masa yang sangat indah. Ketika itulah, hadirnya hormon pertumbuhan menyebabkan perubahan secara fisik maupun emosi secara drastis, bahkan mengejutkan. Usia ketika ketertarikan terhadap lawan jenis(kalau normal, kalau tak normal ya, sasarannya sesama jenis. hiddih…) mulai mengada. Dandan pun mulai menjadi rutinitas wajib sebelum ‘terbit’ ke dunia luar. Salah tingkah ketika bertemu dengan si dia menjadi sebuah sensasi rasa yang tak kan pernah terlupakan. Terpatri hingga kemudian kan menjadi bagian indah di lembar kisah kenangan masa lampau, masa sekolah. Debar rasa memompa darah lebih cepat, membuat wajah pun merah merona. Heuheu… :) Pengalaman pribadi ni yeee.. hahaaaa… :)
Fenomena ini, tentunya memerlukan penyikapan yang cukup. Dan untuk itu, diperlukan sebuah pemahaman yang baik juga terhadap fenomena ini. Sebatas yang saya tahu, satu hal penting yang mesti disadari dari semua ini. Rasa cinta yang dialami murid terhadap gurunya ini biasanya bersifat sementara. Tak lama. Jadi jangan sampai sang guru ge-er-nya kelamaan dan sang orang tua khawatir berlebihan. Heuheu… Dan biasanya rasa ini muncul di remaja karena kebutuhan sang remaja pada sosok dewasa yang tak didapatinya dari lingkungan terdekat(terutama keluarga). Makanya, ketika didapati fenomena ini ada di seorang anak, orang tua mesti lebih melakukan introspeksi diri. Sudahkah orang tua menjadi sosok dewasa yang dibutuhkan sang anak? Jangan malah dimarahi yang malah akan semakin menambah runyam urusan. Heuheu.. soknyadirikudotcom. :)

*****