Selasa, 01 Juli 2008

Mengingat Masa Depan

Bismillah…

Seorang teman perjalanan pendakian berteriak ke saya, ‘meminta’ izin mendahului. Sinngngngngn…. Ya Alloh, saya pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Senyum sang teman itu, persimpangan tempat ia menyusul, rerimbunan pohon besar itu, suara cericit beburungan dan bahkan angin yang menerpa ini, semua pernah singgah dalam diri saya. Tapi kapan? Bukankah baru kali ini saya mendaki gunung ini? Dan bukankah saya pun baru berkenalan dengan sang teman itu tak lebih dari enam bulan saja? Tapi ada sebuah keyakinan yang sangat, bahwa saya pernah mengalami kejadian dalam beberapa detik itu, di masa yang telah lalu. Semua persis sama dengan yang ada dalam memori saya. Sama persis. Yang kemudian saya pun jadi meragukan sendiri akan apa yang saya ingat itu. Tapi entah kenapa, ada sebuah keyakinan yang dahsyat bahwa saya pernah mengalaminya. Di alam mimpi kah saya mengalaminya dulu?

Detik-detik ketika saya bersalaman erat dengan seorang teman yang baru diperkenalkan, pun mengundang memori yang sama. Saya merasa yakin bahwa saya pernah mengalami peristiwa perkenalan ini sebelumnya. Tapi di mana? Kapan pula? Namun saya tak temukan file peristiwa itu dalam ingatan perjalanan hidup saya. Gambaran peristiwa perkenalan itu, sama persis dengan apa yang pernah saya ingat. Dan saya mengingatnya dengan sangat jelas. Ketika tangan kami saling bergenggaman. Di manakah saya mengalaminya? Kapan pula itu? Saya tak bisa jawab. Tapi yang pasti, saya yakin pernah merasa mengalaminya. Dan ingatan itu, sangat jelas.

Bahkan ada sebuah moment ketika saya duduk di bis ketika pertama kali ke Bogor, dan saya ingat itu pernah pula terjadi sebelumnya. Peristiwanya persis banget. Tapi lagi-lagi, saya harus gigit jari, tak bisa menemukan file peristiwa itu dalam ingatan perjalanan riil hidup saya. Seperti pula yang terjadi pada saat saya sedang bersilaturahim meminta maaf kepada guru matematika karena kasus mancing ikan, dan jatuhnya saya di pematang sawah ketika pulang sekolah. Hmmmm…. Dan ketika tiba-tiba berkenalan dengan seseorang, yang rasanya telah sangat lama saya kenal. Tapi kapan? Di mana? Tiba-tiba saja saya langsung akrab dengan sang teman. Persis seperti lagunya Savage Garden yang I Knew I Loved You Before I Met You(judulnya bener ga sih ini?), tapi bukan dalam arti cinta terhadap lawan jenis.

Namun, kejadian-kejadian seperti ini hanya saya ingat ketika memang peristiwa itu sedang terjadi. Jika saya mencoba untuk mengetahui apa yang akan terjadi, saya tak bisa sama sekali. Tapi ketika peristiwa itu berlangsung, tiba-tiba saya ingat saya pernah ‘mengalami’ itu sebelumnya, walau dalam kenyataan hidup belum pernah terjadi sama sekali. Fenomena apakah ini? Kata orang sih, ini fenomena dejavu. Yang katanya pula, berasal dari bahasa Perancis yang berarti “pernah melihat”. Yang kata sang teman pula, hal ini dikarenakan lebih karena saya terlalu sering melamun. Hmmm? Kalo kebanyakan tidur sih, bener. Heuheu.. :)

Dan ketika kopdar kemarin pun, saya merasakan bahwa saya sudah mengenal mereka jauh lebih lama di dunia nyata(karena memang sebagian ya, namun banyak juga yang sebelumnya tidak sama sekali). Walau memang, bertemu mereka hanyalah diawali hanya di kopdar tersebut.

Apakah semua ini menunjukkan bahwa jalan hidup kita sudah tertulis pasti? Terus bagaimana kita bisa merasa pernah mengalami hal yang belum pernah terjadi sebelumnya?

*****

Yang akhirnya menggiring saya menonton film Dejavu-nya Denzel Washington. Yang menurut saya, tak terlalu menggambarkan apa itu dejavu(kecuali pas di adegan pertemuan terakhir itu). Sebuah film yang jika terjadi di kenyataan, hanya akan mengacak-acak sejarah.