Kamis, 05 Juni 2008

Kucel and The Kumel, Seperti Itukah Saya?

Bismillah…

“Loh, lantas yang barusan?”, tanya saya menunjuk pada dua orang lelaki berkemeja biru tua dan berjaket, yang sepertinya baru pulang kantor, “Kok mereka boleh saja masuk pake jaket?”, tanya saya sedikit protes. Sementara saya yang sekedar pake sweater, mesti repot membukanya dan menitipkannya pula.

“Maaf Pak, dititipkan saja. Peraturannya begitu.”, kata si Mas petugas penitipan barang di toko buku itu. Walau pun agak gimana gituh diperlakukan berbeda, lantas mau bagaimana lagi? Yah sudahlah, tak ada gunanya pula berdebat hanya untuk masalah seperti ini. Dan setelah saya masuk, saya pun langsung melihat seorang perempuan masuk lengkap dengan jaketnya. Wuiiihhhh… jaketnya pink, euy!! Ha hah… :) Dan dahsyatnya, satpam dan petugas toko, tak memintanya sama sekali untuk menitipkan jaketnya itu. Bahkan, sang perempuan ini diperbolehkan membawa tas gendongnya. Huwalah? Kok bisa? Ah… Mungkin karena si Mas itu tahu betul, kalau body saya jadi keliatan kesterekannya kalo ngga pake sweater, kali ya? Ha hah… si Mas tau aja ah.. He heh.. :p Atau boleh jadi si Mas penitipan itu sebetulnya adalah agen pencari bakat yang sedang menyamar, ya? Wuihh… Saya mesti memperlihatkan talenta serta bakat saya, nih.. he heh.. :) Siapa tau saya bisa sukses jadi bintang iklan L-Men dengan modal body ini. ha hah.. Walau ceking, namun tetap berisi, dong. (Walah, gimana ngebayanginnya tampang orang ceking berisi, ya? :) )

Peristiwa serupa walau tak sama pun terjadi di pintu masuk Botani Square Bogor, di sebuah hari dalam akhir pekan. Ketika itu, dari sekian banyaknya pengunjung yang juga membawa tas, sayalah satu di antara tiga orang pengunjung yang begitu beruntung mesti diperiksa tas oleh sang petugas penjaga. Dan akibatnya, berpasang-pasang mata pun memandang saya seperti takjub gituh. Mungkin mereka mengira saya bakalan dapet doorprize panci dari salah satu vendor HP gituh.. Bujug dah.. Kalo sudah begini, kebiasaan keartisan saya pun kumat, langsung berfose layaknya seorang artis sedang jumpa fans dalam rangka promo tour film terbarunya. Kiss bye kiss bye sembari terus melambaikan tangan dan menebar senyum mempesona. Ha hah.. Bohong banget dah… Wew :p Bahkan pernah satu kali, tu alat pendeteksi bunyi keras banget pas disapuin ke tas saya. Sampe terlihat wajah si petugas itu shock banget. Wuih!? Ada apa gerangan dengan tas saya? Apakah karena di dalamnya ada sebungkus cendol yang saya beli di depan barusan? Ah, masa sih? Kalau bener, celamitan amat tuh alat. Nggak bisa ngendus bau cendol dikit, dah teriak-teriak. J Hingga akhirnya saya mesti bongkar-bongkar tas untuk kemudian diperiksa. Tapi tak ditemukan apa pun yang bisa menjadi sumber berbunyinya tuh alat nggak punya kerjaan, kecuali buku, laptop, serta sebungkus cendol. Apakah karena cendol? Jawaban dari pertanyaan ini masih saja menjadi misteri. Maksud lo? :p

Dan satu hal lagi, saya tak pernah luput dari razia polisi di jalanan. Selalu saja diberhentikan, sementara yang lain cukup banyak juga yang dilewatkan. Hahhhhhh…. L Emang sudah nasib, kali ya?

Kejadian-kejadian seperti ini rasanya sangat sering saya alami. Dan mau tak mau membuat saya introspeksi diri. Ada apa sebenarnya dengan diri saya ini? Atau lebih tepatnya, ada apa dengan tampangku ini? Sebegitu mencurigakannya kah diri ini? Hmmm…. Kucel kah? Bau kah? Kusut kah? Apakah karena saya terlihat terlalu berdaki tebal? Ha hah… Nggak banget dah.. Tapi pastinya, semua ada sebabnya. Tak bisa tidak. Dan saya mesti tahu, untuk kemudian saya perbaiki. Harus.

Yang baru terfikir sekarang baru satu, mesti ada yang diperbaiki mulai sekarang ini. Perbaikan tampang. Ya, perbaikan tampang. Yang pasti, tak mungkin mengoperasi plastik nih wajah. Lagian, udah ganteng banget gini, kok. Mau digimanain lagi? Ha hah.. J Perlu sebuah resolusi untuk perubahan itu. Dan akhirnya, inilah resolusi yang diharapkan bisa membantu (kalau dilaksanakan, tentunya) :

1. Lebih mempersering mandi, menjadi setidaknya sekali sehari. Yang asalnya berapa hari sekali, ya? Ha hah… (jangan terlalu percayai yang ini!) Hidup penghematan air! Selamatkan bumi dari kelangkaan air bersih! Allohu Akbar!! :) Heh? Maksud lo?

2. Dan kalau mandi, mesti pake sabun dan pula gosok gigi. Jangan asal basah doang. Hmmm… :) Dan sepertinya, alasan khawatir mencemari lingkungan dengan memakai sabun dan odol, mesti segera dibuang jauh-jauh. Hmmm… Ya ya ya.. sepertinya harus begitu. (wwwdotalesandoangdotnet)

3. Mulai membiasakan nyisir rambut, euy! Walau sekarang ‘gondrong’, kebiasaan pas dulu botak masih terbawa-bawa. Tak pernah nyisir. Walau pun nyisir, pake sisir sepuluh jari aja. Malah kebiasaan ini semakin menjadi-jadi ketika ternyata rambut acak-acakan menjadi sebuah trend. Kayak siapa, ya? Ha hah… (Namanya kayak hujan-hujan gituh lah.. )

4. Luluran. Perlu ga, ya? Hmmm.. jadi inget pas KKN dulu. Saya didesak untuk luluran biar nggak terlihat terlalu ndeso, katanya. Busyet!! Tampang kayak gini dibilang ndeso? Ckckckckck… Namun diam-diam, saya pun mendekati cermin. Ataukah memang tampang ndeso itu kayak gini, ya?(sembari terus mengagumi wajah yang dianugerahkan Sang Pencipta ini, tiada henti. :) )

5. Pakaian mesti lebih sering dicuci dan juga disetrika. Kalau perlu beli pewangi, pelicin dan pelembut yang di iklan itu. Jangan lagi pake baju yang belum disetrika apalagi yang belum dicuci seminggu bahkan lebih.

6. Apa lagi, ya? Sudahlah, itu saja dulu. Ini pun saya tak yakin bisa istiqomah melakukannya. ha hah…

Mohon doa dari semua, semoga tampang ini bisa jauh lebih baik. :)

*****

Sebenarnya saya sangat ingin mencantumkan sebuah hadits/atsar, yang kurang lebih menyatakan bahwa : jangan menyalahkan orang yang berprasangka buruk terhadap kita, jika memang tampang kita sangat layak dicurigai. Saya tak tahu ini sebuah hadits, atsar atau apa. Jika ada yang tahu, mohon dengan sangat untuk memberikan informasi. Terima kasih. :)

Selasa, 03 Juni 2008

Jodoh, Kangkung dan Susu : Mencari Sebuah Alasan

Bismillah…

“Hmmm… kenapa, ya?”, bingung juga ketika seorang teman bertanya kenapa saya suka makanan favorit itu. Tumis kangkung plus tempe goreng. “Ya, suka saja. Tak semua mesti terumus dalam alasan, kan?” Sebuah tanya yang gue banget, kan? Ha hah..

“Aneh banget kamu mah.. Masa nggak doyan, sih? Enak gituh ngga suka?”, sang teman begitu tak percaya ketika saya bilang, saya tak suka susu. Spesifiknya, saya tak suka susu tanpa rasa campuran lain, coklat misalnya. Entah kenapa, saya selalu sukses muntah walau sekedar mencium bau susu, apalagi susu sapi murni. Hueeeeeeks… hiiyyy… Bahkan, melihat adegan orang minum susu pun sudah berhasil membuat saya berpaling dari memandangnya. Maka dari itu pulalah, iklan minum susu menjadi iklan yang berada di rating teratas yang tidak akan saya lihat. Ada sebuah blok kuat yang berhasil membuat saya menyimpulkan, saya tak suka susu. Dan sampai sekarang, saya tak tahu kenapa bisa seperti itu. Padahal konon katanya, ketika kecil(saya tak ingat) saya paling suka minum susu. Malah termasuk rakus bin hawek. Benarkah? Kata ibu sih, begitu.

Pembicaraan dengan sang teman itu pun menyisakan satu pertanyaan cukup menggelitik untuk kemudian menggiring saya untuk bertanya lebih lanjut pula. Apakah rasa suka, cinta, benci, rindu dan perasaan lainnya mesti selalu berdamping dengan sebuah alasan? Mestikah ada sesuatu yang menjadi alasan untuk adanya sebuah rasa?

“Mas, kenapa Mas mencintai istri Mas?”, tanya saya suatu ketika, pada seorang senior di suatu malam yang bertabur bintang. Ketika angin pun semilir menyingkap poni rambut saya yang modenya ditiru abizz sama seorang aktor dan penyanyi kondang dari Korea, Rain. He heh… Eh, baru nyadar, kok saya ngga dapat royaltinya, yah? Ha hah.. :) OOT, dah... Cukup!

“Hmmm…. “, sang senior nampak sedang merenungkan jawaban yang akan diberikan, dalam. Saya pun menunggu sembari menikmati remah-remah gorengan tempe di atas piring. “Ya ya ya… “, suara sang senior, sepertinya telah bisa merumuskan jawaban. Manggut-manggut menerawang lautan cahaya di hamparan Bogor sana. “Iya ya, kenapa, ya?”, gubraks!!!. Tolooooooooong..!!! Wajah dodol(eh, cireng deng) itu pun terbit juga di wajahnya. Dan tiba-tiba saja, saya jadi pengen kentut gitu. Ha hah.. kebiasaan kalo hati sedang seneng banget, apalagi kalo liat orang bingung. Yesss!!! Kirain gue aja yang suka gituh. Ha hah.. :p “Yang pasti, saya mencintai istri dengan sepenuh hati. Susah kalau mesti dirumuskan dalam kata.”, cieee…. Suit suiittt… Namun kini saya lihat sebuah kesungguhan dari bersit di wajahnya. Deuh, romantisnyaaa…. (Loh kok, malah saya yang tersipu-sipu gene, ya? Ha hah.. Tak apa lah, itung-itung mewakili tersipunya istri antum, Mas. Hueksss.. jijay banget dah!)

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali susah dicari jawabnya. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa cintalah yang pertama muncul, untuk kemudian baru dimunculkan alasan-alasan kenapa mencinta. Kesannya, alasan di sini hanyalah jadi semacam pelogis dari sebuah rasa. Tapi benarkah semua itu tak beralasan? Saya yakin, semua ada alasannya. Terlepas dari terfikirkan atau tidaknya. Lalu, bisakah dilakukan kebalikannya? Diawali dari alasan, untuk kemudian dari alasan itu ditumbuhkan rasa? Jawaban saya, sangat bisa. Malah, cinta yang bermula dari alasan, akan jauh lebih abadi. Apalagi jika yang menjadi alasan adalah sesuatu yang mengideologi. Dan menurut saya, inilah yang diberi nama Membangun Cinta. Berbeda dengan yang tiba-tiba saja mencinta, yang dinamakan Jatuh Cinta. Yang seakan-akan, adanya cinta tak lebih dari sebuah kecelakaan semata. Jatuh gituh loh. Yang terakhir ini biasanya jadi landasan dalam berbagai aktivitas yang bernama pacaran.

Dari sini, maka dapat difahamilah, akan sebuah hadits yang menceritakan pemilihan seorang istri :

“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Namun nikahilah karena agamanya (jika tidak), niscaya kamu sengsara.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i)

Dari hadits di atas, secara tersirat, Alloh swt melalui lisan Rosul-Nya ingin mengatakan bahwa, mulakanlah cinta dari sebuah alasan. Ya, karena ternyata cinta yang dibangun di atas landasan alasan, akan jauh lebih kokoh, dan pula abadi. Dan dari hadits ini pulalah, dapat kita ketahui bahwa alasan agama lah yang menjadi alasan utama. Sebuah landasan yang paling landas. Karena kebahagiaan yang akan diraih, tak sebatas ada di dunia fana. Ia tembus sampai kelak di keabadian yang ada di sana. Akhirat.

Ya ya ya.. dan akhirnya, di paragraf terakhir ini, saya menyimpulkan bahwa tak ada yang tak beralasan di dunia ini. Semua ada alasannya. Bukankah Alloh tidak menciptakan segala sesuatu tanpa sebab? Apakah Alloh menciptakan semua ini hanya untuk main-main semata? Jelas tidak. Selalu ada alasan dari semua yang ada. Dan sukanya saya terhadap kangkung dan tempe, walau sekarang saya masih tak tahu alasan kesukaannya saya pada dua macam makanan itu, pasti ada sebab-musababnya. Dan sebab-musabab itulah yang menjadi alasan saya menyukai kangkung dan tempe. Begitu pulalah ketaksukaan saya terhadap susu. Boleh jadi, ada sebuah trauma atau entah apa, yang mengawali saya mendeklarasikan gerakan anti-susu pada diri saya sendiri. Dan boleh sangat jadi, alasan itu hanya diketahui di alam bawah sadar saya, yang terbangun ketika masih kecil. Hmmmm….

Dan, mulai saat ini, saya pun mulai mengazzamkan untuk mencari alasan kenapa saya mesti minum susu. Semoga dengan begitu, saya pun jadi mencintainya. Insya Alloh.

Kenapa saya mesti suka minum susu?

Alasan 1 : Biar tambah kekar, minum susu L-Men. Weuhh.. kebayang deh pas tiba-tiba saja dada saya jadi bidang dengan perut six pack gituh.. ha hah.. gue banget dah!!

Alasan 2 : Biar ntar tua ngga osteoporosis, maka minumlah Anlene. Walau sudah kakek-kakek, kan tetep masih mau naek gunung.. :)

Alasan 3 : Biar apa lagi, ya?

Dst…

(Untuk perusahaan yang memproduksi L-Men dan Anlene, karena sudah dicantumkan nama produknya di sini, maka silakan segera bayar biaya iklan ke rekening saya. He heh.. Lagi bokek neh… :) Kapan ya, gue ngga bokek? Ha hah)

*****