Bismillah…
“Beneran ente punya binaan?”, tanya seorang teman dengan wajah tak percaya gitu. Busyet. Emangnya kenapa dengan diriku yang ternyata punya mutarobbi ini? Tsahhh… Apakah tampangku ini tak layak untuk jadi seorang murobbi? Beuh… Kemudian pertanyaan itu pun mengantarkan saya ke depan cermin. Berkaca, dan terpampanglah wajah yang telah lekat seperempat abad lebih dikit ini. Ditilik, emang sih, tampang saya jauh lebih cocok jadi aktor beken daripada jadi seorang murobbi. He heh.. :)
Terus terang, memang jauh lebih enak jadi orang yang tak punya kelompok binaan. Bebas. Lepas. Tak ada beban. Dunia terasa begitu indah. Tak perlu nyiapin materi yang akan disampaikan di acara pekanan. Tak perlu buat perencanaan tahunan pencapaian binaan. Tak mesti terseret dalam masalah-masalah sang mutarobbi. Kalo terjadi pas lagi kuat iman, tak masalah lah. Tapi kalo lagi drop, bujug dah. Beraaaaattt… Tapi memang mesti diakui juga, ketika berkumpul dengan mereka, semangat dan asa yang tersalur dari wajah-wajah remaja itu, hampir selalu berhasil menyemangati saya untuk melengkungkan bibir tipis ini ke atas. He he… Bibir tipis? Wow, terdengar soo sexy… Weks..!!!
Awal saya masuk dunia bina-membina, adalah ketika saya diamanahi menjadi asisten dosen Pendidikan Agama Islam(PAI). Saya megang mahasiswanya Pak Didin Hafidhudin, loh.. ha hah.. Segitu bangganya diriku. Ha hah… :) Ya ya ya, itulah awal saya menjadi tokoh utama(tsahhh…) dalam sebuah lingkaran kecil. Dan ketika itu pulalah, mulai tertawar pada diri ini sebuah opsi berat yang ternyata saya ambil ringan. Ya, saya mesti merombak diri secara pribadi, terutama di hadapan para praktikan. “Oy, dirimu sekarang mesti cool! Mesti jaga imej seorang asisten dosen! Apalagi ini asdos mata kuliah agama.”, ngiang itu terus saja menggema di relung hati ini. Inilah saat-saat saya masuk pada fase split personality. Saya pun tiba-tiba jadi sok (lebih) cool, sok (lebih) pede sampai jadi sok segala tahu di hadapan para praktikan. Gila!!! Dan apa yang terjadi di bulan-bulan kemudian? Ternyata saya bosan dengan diri saya yang bukan diri saya itu. Bahan bakar saya untuk terus bersemangat membina, sering sekali tiba-tiba drop. Dan ini tak bisa dibiarkan berlanjut. Hmmmm… Perlu waktu cukup lama juga untuk saya bisa menyadari akan kebodohan saya ini. sebuah kebodohan yang mesti tersingkir secepatnya. Yap, keputusan bodoh untuk jadi seperti orang lain yang bukan sama sekali diri saya. Dan ya, syukurlah saya pun memutuskan untuk tak mau lagi menjadi orang lain melainkan diri saya sendiri walau di hadapan para binaan, mentee, mutarobbi atau apa pun lah namanya. Just be your self! Tsahhhh… :)
Dan ternyata setelah berkenalan secara pribadi, tahu secara pribadi, ternyata suasana melingkar jadi jauh lebih hidup. Para praktikan, mentee dan mutarobbi pun tak lagi memandang sosok seorang murobbi sebagai sosok yang angker. Ketika tahu orang yang jadi tokoh utama dalam lingkaran itu hanyalah manusia biasa, bahkan terlalu sangat biasa, ternyata malah menjadikan acara pekanan itu jauh jadi lebih efektif. Pemberian materi tak lagi satu arah. Dan yang utama, sebuah beban berat yang menyesak di dada, terasa lepas. Senangnya…. He heh.. :) Saya tak perlu lagi menutup-nutupi berbagai kekurangan dan keanehan serta keunikan saya, yang ternyata membuat mereka pun terbuka akan kekurangan mereka. Merasa pula bahwa mereka pun bisa diterima dengan kekurangan mereka. Ha hah.. jadilah keluarga yang begitu menyenangkan. Sebuah home sweet home.
Memang benarlah, bahwa kejujuran akan mendatangkan ketenangan hidup. Jujur untuk menjadi diri sendiri lah yang sangat sering sekali tak tertunai demi harga sebuah imej tak perlu. Jadi murobbi? Tak perlulah jadi orang lain. Tak perlulah ada sebuah split dari karakter kita. Karena kita bukanlah Ustadz Rahmat Abdulloh, dan janganlah jadi beliau. Jadilah murobbi sesuai dengan diri kita sendiri. Asalkan tak menyalahi syariat, tentunya. :)
*****
Setelah bertambah lagi satu keluarga baru dari diploma.