Sabtu, 31 Mei 2008

Split Personality Seorang Murobbi

Bismillah…

“Beneran ente punya binaan?”, tanya seorang teman dengan wajah tak percaya gitu. Busyet. Emangnya kenapa dengan diriku yang ternyata punya mutarobbi ini? Tsahhh… Apakah tampangku ini tak layak untuk jadi seorang murobbi? Beuh… Kemudian pertanyaan itu pun mengantarkan saya ke depan cermin. Berkaca, dan terpampanglah wajah yang telah lekat seperempat abad lebih dikit ini. Ditilik, emang sih, tampang saya jauh lebih cocok jadi aktor beken daripada jadi seorang murobbi. He heh.. :)

Terus terang, memang jauh lebih enak jadi orang yang tak punya kelompok binaan. Bebas. Lepas. Tak ada beban. Dunia terasa begitu indah. Tak perlu nyiapin materi yang akan disampaikan di acara pekanan. Tak perlu buat perencanaan tahunan pencapaian binaan. Tak mesti terseret dalam masalah-masalah sang mutarobbi. Kalo terjadi pas lagi kuat iman, tak masalah lah. Tapi kalo lagi drop, bujug dah. Beraaaaattt… Tapi memang mesti diakui juga, ketika berkumpul dengan mereka, semangat dan asa yang tersalur dari wajah-wajah remaja itu, hampir selalu berhasil menyemangati saya untuk melengkungkan bibir tipis ini ke atas. He he… Bibir tipis? Wow, terdengar soo sexy… Weks..!!!

Awal saya masuk dunia bina-membina, adalah ketika saya diamanahi menjadi asisten dosen Pendidikan Agama Islam(PAI). Saya megang mahasiswanya Pak Didin Hafidhudin, loh.. ha hah.. Segitu bangganya diriku. Ha hah… :) Ya ya ya, itulah awal saya menjadi tokoh utama(tsahhh…) dalam sebuah lingkaran kecil. Dan ketika itu pulalah, mulai tertawar pada diri ini sebuah opsi berat yang ternyata saya ambil ringan. Ya, saya mesti merombak diri secara pribadi, terutama di hadapan para praktikan. “Oy, dirimu sekarang mesti cool! Mesti jaga imej seorang asisten dosen! Apalagi ini asdos mata kuliah agama.”, ngiang itu terus saja menggema di relung hati ini. Inilah saat-saat saya masuk pada fase split personality. Saya pun tiba-tiba jadi sok (lebih) cool, sok (lebih) pede sampai jadi sok segala tahu di hadapan para praktikan. Gila!!! Dan apa yang terjadi di bulan-bulan kemudian? Ternyata saya bosan dengan diri saya yang bukan diri saya itu. Bahan bakar saya untuk terus bersemangat membina, sering sekali tiba-tiba drop. Dan ini tak bisa dibiarkan berlanjut. Hmmmm… Perlu waktu cukup lama juga untuk saya bisa menyadari akan kebodohan saya ini. sebuah kebodohan yang mesti tersingkir secepatnya. Yap, keputusan bodoh untuk jadi seperti orang lain yang bukan sama sekali diri saya. Dan ya, syukurlah saya pun memutuskan untuk tak mau lagi menjadi orang lain melainkan diri saya sendiri walau di hadapan para binaan, mentee, mutarobbi atau apa pun lah namanya. Just be your self! Tsahhhh… :)

Dan ternyata setelah berkenalan secara pribadi, tahu secara pribadi, ternyata suasana melingkar jadi jauh lebih hidup. Para praktikan, mentee dan mutarobbi pun tak lagi memandang sosok seorang murobbi sebagai sosok yang angker. Ketika tahu orang yang jadi tokoh utama dalam lingkaran itu hanyalah manusia biasa, bahkan terlalu sangat biasa, ternyata malah menjadikan acara pekanan itu jauh jadi lebih efektif. Pemberian materi tak lagi satu arah. Dan yang utama, sebuah beban berat yang menyesak di dada, terasa lepas. Senangnya…. He heh.. :) Saya tak perlu lagi menutup-nutupi berbagai kekurangan dan keanehan serta keunikan saya, yang ternyata membuat mereka pun terbuka akan kekurangan mereka. Merasa pula bahwa mereka pun bisa diterima dengan kekurangan mereka. Ha hah.. jadilah keluarga yang begitu menyenangkan. Sebuah home sweet home.

Memang benarlah, bahwa kejujuran akan mendatangkan ketenangan hidup. Jujur untuk menjadi diri sendiri lah yang sangat sering sekali tak tertunai demi harga sebuah imej tak perlu. Jadi murobbi? Tak perlulah jadi orang lain. Tak perlulah ada sebuah split dari karakter kita. Karena kita bukanlah Ustadz Rahmat Abdulloh, dan janganlah jadi beliau. Jadilah murobbi sesuai dengan diri kita sendiri. Asalkan tak menyalahi syariat, tentunya. :)

*****

Setelah bertambah lagi satu keluarga baru dari diploma.

Kamis, 29 Mei 2008

Maaf, Dari Catatan Akhir Sekolah

Bismillah…

Setelah kemarin baru saja nonton cuplikan film Catatan Akhir Sekolah, saya jadi pengen banget nonton full version-nya. Kayaknya asyik banget nih film. (Hey hey hey! Bukannya filmnya dah lama, Brur?) Iya sih, tapi kan saya belum nonton. Jadi teringat masa-masa berseragam putih abu-abu dulu. Ketika sepeda gunung itu menjadi teman pengantar setia saya memasuki gerbang bertuliskan SMA N 1 BANJAR. Sebuah waktu yang merupakan titik penjelas sekaligus pengabur akan arah saya sampai sekarang.

Masa-masa SMA saya termasuk yang biasa saja, sih. Berjalan seperti keumuman anak SMA lainnya. Disetrap karena ketahuan mancing ikan di kolam sekolah, padahal ketika itu sedang jam pelajaran Matematika. Dijemur di lapang karena bilang ke guru PPKn saya malas ngerjain PR(tadinya sih, biar kayak orang gentle gitu. Soalnya sang guru bilang, akan sangat menghargai kejujuran seberapa pahitnya pun itu. Maka saya pun sangat jujur, ketika ditanya alasan kenapa tak mengerjakan PR). Digampar guru agama karena berbagai sebab, pula oleh guru biologi, sampai kepala saya mesti dipentung sama pemukul saron karena ngga bisa menjalankan tugas sebagai tukang kendang di pelajaran Karawitan. Malu banget, coz pelajaran karawitan itu adalah pelajaran gabungan dengan kelas 2A. Heuheu.. ada seseorang di sana, euy! Ha hah… (Eh, kalo ini sih, pengalaman SMP, deng. He heh.. ). Wakasek Kesiswaan pun kayaknya demen banget nyuruh saya olah raga lari keliling lapang upacara, hanya karena saya terlalu sering lupa bawa topi pas upacara. Dikasih hukuman ngerjain soal EBTANAS Matematika sepuluh tahun sama Pak Endang Erming, karena ngga bisa ngerjain 5 soal berturut-turut di depan kelas. Ulangan-ulangan fisika dan kimia yang tak bisa melampau angka 5, si angka keramat, menjadi sebuah memori tak terlupakan. Apalagi kalau sudah masuk Bahasa Inggrisnya Bu Rusmini. Guru yang satu ini paling suka nunjuk-nunjuk buat ngerjain soal ke depan. Membuat suasana kelas jadi sangat horor.

Ketika mengenangnya sekarang, memang terasa sangat indah. Tapi kalau lagi menjalaninya, waduh, jangan tanya. Kebayang kan, gimana rasanya ditabok di depan banyak orang. Malu, deg-degan dan lain sebagainya bercampur aduk. Harapan saya ketika itu hanya satu, semoga nggak terlintas di benak Wakasek itu untuk memanggil orang tua saya ke sekolah. Bisa mampus Gue!

Di SMA kelas 3 inilah, pengalaman demonstrasi pertama saya pun dimulai. Keren juga gue, ya? ha hah.. Ketika itu, semua kelas 3 IPA, menuntut untuk tidak diajar oleh seorang guru yang ketika itu mengajar. Gurunya emang tegas, keras, tak toleransi waktu, banyak tugas, serta ringan tangan. Walau alasan sang guru melakukan itu masuk di logika, supaya kami dapat lulus dan untung kalau dengan nilai bagus, tetap tak menyurutkan niat membara kami untuk demonstrasi. Soalnya, suasana selalu sangat mencekam ketika masuk jam pelajaran yang masuk mata pelajaran yang di-EBTANAS-kan itu. Setelah dalam rentang 3 hari melakukan koordinasi antar 3 kelas, maka ditentukanlah waktu demonstrasi itu. Demonstrasi akan dilaksanakan pada jam pelajaran pertama di hari senin setelah upacara bendera, pas di jam pelajaran sang guru di kelas saya, 3 IPA 1. Di depan ruang kepala sekolah, 3 kelas dari kelas 3 IPA itu, kompak menyalurkan aspirasi. Inti tuntutannya adalah “Kelas 3 IPA tak mau diajar oleh Bapak Fulan”. Dan kami mengancam pihak sekolah akan mogok belajar sebelum tuntutan kami dipenuhi. Kepala sekolah pun langsung memanggil sang guru yang ketika itu sudah masuk ke kelas saya. Semua murid diminta kembali ke kelas, menunggu keputusan dari pihak sekolah. Dan dari tiap kelas, diminta perwakilan dari MPK(Majelis Perwakilan Kelas) dan KM(Ketua Murid) untuk menyampaikan alasannya ke ruang kepala sekolah. Dan tak lama kemudian, kepala sekolah pun masuk ke semua kelas IPA. Menanyakan pula aspirasi semua murid. Semua kompak, walau pun ada beberapa yang abstain. Sejam berlalu, dan akhirnya keputusan itu pun diambil. Sang KM mengumumkan di depan kelas, pihak sekolah memutuskan tuntutan kami diterima. Yes Yes YESSS!!!!! Semua bersorak gembira bin bahagia. Ha ha ha hah… Yes!!! Dan hari itu juga, keputusannya sang guru dipindahkan mengajar ke kelas 1. Namun kemudian, duh, ternyata apa yang kami lihat kemudian merupakan sebuah drama kehidupan yang pilu. Bahkan terlalu sangat pilu. Ketika sang guru kembali ke kelas, memberesi buku pegangan yang telah disimpannya di meja guru di kelas dalam diam, sang guru kemudian terduduk menunduk di meja guru depan kelas. Tersedu. Menangis. Menangis? Ya, lelaki tinggi besar dengan wajah kukuh itu, melelehkan air mata. Terisak. Kelas mendadak hening. Duh, serasa ada sembilu menancap menghunjam deras di hati. Astaghfirulloh… Kebahagiaan pun menguap tak bersisa. Apakah layak murid tak tahu diri ini menjadi penyebab luruhnya air mata seorang guru? Ya Alloh, ampuni seluruh dosa ini. Mohon basuh dengan segenap ampunanMu, ya Robb. Sungguh, segalak apa pun guru, saya ternyata tak kuasa melihat seorang guru sampai menangis, terlebih karena ulah muridnya. Ampuni, ya Alloh. Atas sebuah dosa, yang terasa begitu menggunung ini. Dan sungguh, mulai detik itu pulalah, saya pun mengutuk keras diri saya sendiri. Dan ketika melihat seorang teman tersenyum melecehkan ketika sang guru mengucapkan kata perpisahan di depan kelas, amarah ini begitu tak tahan menggelegak. Jika teman-teman tak menahan, tentu pukulan sekuat tenaga itu akan mendarat di wajah termenyebalkan sedunia itu. SIAAAAALLLL!!!! Tidakkah ada rasa menghargai seorang guru, walau sedikit? Dan sejak saat itu pulalah, saya bersumpah sepenuh hati, tak kan melakukannya lagi pada seorang guru, dalam sisa umur ini. Maka, saksikanlah sumpah ini.

*****

Di semester kedua kuliah, saya menghadiahi sang guru sebuah buku. Terima kasih, Pak. Atas jasa yang tak kan pernah saya mampu membalasnya. Terutama, maafkan kelakuan saya ketika dulu, yang tak mau saya sebutkan kembali, sampai kapan pun nanti.

Rabu, 28 Mei 2008

Bisa Bangkrut Diriku, Untung Saja Enggak

Bismillah…

Walah??? Saya hanya godeg-godeg membaca semua SMS keluar dari HP teman saya itu. Hampir semua SMS yang dikirim hanyalah untuk seorang, dan isinya : “Lagi ngapain, Say?”, “Udah maem belom?”, “Met bobo, yaa… Mimpi indah..”, “Mimpiin aku, ya…” atau malah hanya “Mmmuahhhhhhhh….” Dan semua SMS lain yang senada.

“SMS-an cuman gini doang?”, tanya saya dodol sembari membaca SMS-SMSnya. Sang teman tertawa ngakak.

“Romantis, kan?”, dilanjut dengan tawanya yang membahana.(Wuilihhh.. kok malah jadi syerem, ya? Ha hah)

Terlalu sangat sering, saya pun mendapati telinga teman saya itu tak pernah lekang dari benda mungil bernama HP. Dan sangat sering saya dapati dia mengisi ulang pulsanya, bahkan dalam sebuah hari yang sama. Demi satu hal, bisa mendengar suara lembut dari seberang sana. Tsahhhhh…. Bujug dah..

*****

“Habis berapa?”, tanya saya belum percaya mendengar nominal yang disebutkan seorang teman.

“150 rebu. Kenapa emang?”, sahut sang teman sambil ngeloyor, nyantai. Meninggalkan saya yang garuk-garuk kepala di ruang tengah. Uang segitu hanya untuk sekedar nonton dan makan di cafĂ© dalam semalam? Dan katanya lagi, itu belum seberapa. Wuiiihhh???

“Asalkan pujaanku tetap tersenyum bahagia.”, katanya. Saya hanya bisa meraba dompet sambil bergumam.. Selamaaat selamat… :)

*****

“Sebulan habis berapa buat pacaran, Coy?”, tanya saya suatu siang ketika makan di warung samping.

“Hmmm… berapa, ya? Nggak tahu lah. Nggak pernah diitung, sih.”

“Kira-kira?”

Dia hanya menggeleng. Melahap nasi yang dalam beberapa suap lagi akan sempurna habis.

Saya pun coba mengira-kira sendiri. Pengeluaran rutin pacaran : Pulsa, uang makan minum, ongkos, terus apa lagi ya? Nonton, dan juga biaya tak terduga. 500 rebu sebulan? Kayaknya kurang dah. Kalau malam minggu saja rutin ngapel dan jalan-jalan, sekali jalan 150 rebu, kalo dikali 4 kali sebulan, maka jadi 600 rebu!!! Aje gile!!! Bisa bangkar gue!! L Bisa bangkrut diriku kalo gitu mah. Ha hah.. untung saja enggak. Selamaaat selamat… gumamku sambil mengelus dompet di saku belakang celanaku. He heh.. :)

*****

Sudah dua hari, sang teman murung dan cenderung mengurung diri. Pujaan hati, sudah tak menaruh hati untuknya. Rupanya pengorbanan harta dan waktu serta perhatian dari sang teman, tak bisa membuat sang pujaan hati memikirkan dan merasakan kembali untuk melanjutkan hubungan. Tegaaaaaa…!!!

“Dengan sangat berat hati, kita putus.”, itulah perkataan yang terbayang di benak dari pujaan hati sang teman dua hari yang lalu. Seperti di film drama korea yang saya tonton kemarin. He heh… Segitu mudahnya kah? Ya begitulah… tak ada komitmen resmi, sih.. :)

*****

Suatu saat, kalau ada orang yang nanya lagi kenapa nggak pacaran, salah satunya saya akan bilang, “Saya takut bangkrut, euy.” Ha hah… Takut bangkrut dunia, dan pula bangkrut di akhirat. :)

*****