Selasa, 11 November 2008

Mulai (Sedikit) Kufahami Kalian, Duhai Perempuan.. (Sekuel)

Bismillah…

Saya mulai bisa menghayati alasan kenapa ibu, teteh dan kaum hawa lainnya sangat semangat untuk tawar-menawar di pasar. Ya ya ya… Seiring bulan suci tahun ini, pemahaman yang menginternal dalam diri pun hadir. Oh, ternyata begini toh. Hmmm… (keren juga ya, bahasa gue :D )

Ya. Selama satu bulan penuh di bulan Romadhon kemarin, saya dan teman-teman di sekretariat, ber-azzam untuk memasak sendiri baik untuk berbuka maupun sahur. Bukan ber-azzam sih, sebenarnya. Lebih tepatnya, ‘dipaksa’ untuk memasak sendiri. Terkait kondisi keuangan yang ternyata kompakan bokek(bokek kok berjamaah, ye? Heuheu…), sekaligus untuk persiapan ketika kelak punya istri, dan sang istri berhalangan memasak. Entah itu karena sedang hamil, sakit, keluar kota atau lain sebagainya. *halah.. :D Tapi yang pasti mah, alasannya lebih berat ke kondisi finansial para marboth.. Kaciiiiaaaaaaaaaaaaaaaannn… Hehe.. Tapi teteeep aja.. hepi :D

“Berapa nih, Kang?”, tanya saya menunjuk tumpukan ikatan kacang panjang yang baru saja diturunkan dari motor, di sebuah sudut di pasar Anyar Bogor dalam sebuah senja.
“Enam ribu.”, jawabnya. Apa? Enam ribu sekilo? Busyet dah. Sepekan yang lalu, kalo tak salah ingat, dengan harga Rp. 4.000 sudah bisa dapet noh. Hmmm…
“kagak bisa kurang, neh?”
“Udah pas. Si Ibu barusan juga beli segitu, A.”, kata si Akang sambil terus sibuk menurunkan kacang panjang dan menumpuknya di atas karung di pinggir jalan. Ah, apa beli kangkung lagi aja, ya? Tapi bosen, eung. Udah tiga hari ini makannya kangkung mulu. Ajib dah..
“Oke lah, Kang. Setengah aja.”, deal.

Pindah ke pedagang tempe, harga per satuannya sekarang sudah Rp. 6.000, cing. Tiga hari yang lalu, masih Rp. 4.500, dah. Itu pun udah paling mahal. Heeeeeeeee….
Pindah ke lapak bumbu-bumbuan, harga cabe merah sudah Rp. 4.500 seperempat kilogram(kemarin Rp. 3.000 udah dapet, dan itu udah dicampur sama cabe rawit) plus bawang putih yang sudah ‘sisa-sisa’ seharga Rp. 1.000 per bungkus(isi sekitar 20 siung ukuran kecil dan sedang). Hmmm…

Sungguh, saya pengen banget nawar harga itu. Tapi kenapa kok males, ya? Kerasa berat juga sih dengan harga sekian itu. Hingga akhirnya, sebuah keajaiban pun hadir. Ya, mau tak mau saya pun mesti menawar mengingat kondisi keuangan. Ah, tapi tetep aja, pol-polnya saya hanya nawar dengan “Pasnya berapa, Kang?” Si Akang nurunin dikit, saya langsung sepakat. Masih ada bayangan males berat kalo mesti keliling-keliling lagi. Hmmm... Tuntutan males untuk keliling-keliling masih lebih meraja daripada menghemat uang yang sangat terbatas. Ah, sudah lah. Kalo uang dah habis, tinggal minta lagi sama Alloh. Heuheu..:D (Ah, jadi inget sebuah adegan film Sang Murabbi). Saat itulah, setidaknya, saya mulai sedikit memahami salah satu alasan kenapa ngotot tawar-menawar(dengan riil merasakan langsung).

Dari pengalaman selama sebulan penuh (belanja sendiri ke pasar, mengolah dan lantas masak sendiri bareng temen-temen), jadi ada sebuah perasaan penghargaan yang sangat alami tumbuh dari hati ini. Sebuah penghargaan dan penghormatan setulus hati pada para perempuan yang aktifitasnya sering berkutat belanja di pasar(belanja dan tawar-menawarnya) dan dapur dalam urus-mengurus konsumsi keluarga. Subhanalloh, ya. Dalam aktifitas itu, ada sebuah pengorbanan yang saya mesti(bahkan wajib) untuk menghargainya. Ya, setidaknya dengan tidak ngomel-ngomel dengan berkata,”Masa makan kangkung sama tempe mulu, sih?” hehe..

Betul sekali jika ada orang yang bilang, pilihlah pemimpin yang setidaknya pernah merasakan susah ketika berada di masa lalunya. Biar dia tidak sekedar melihat dengan mata, namun juga dengan hati yang menghayati. Yap yap yap.. Untuk memahami, ternyata tak sekedar diperlukan ilmu, tapi juga rasa yang bergumpal berkelindan bersama pengalaman diri. (Nah loch? Ini kok nyambungnya malah ke sini? Ckckckck… Maklum lah, sindrom pilkada :D )

Di akhir ini, izinkan saya untuk sekedar mengekspresikan dalam kata tentang segumpal besar rasa terima kasih ini. Jazakumullah khoiron katsiron untuk para perempuan di mana pun berada. Terimalah rasa salut saya untuk kalian. Walaupun, rasa salut ini tak bisa membantu dalam hal beli-membeli beras dan lauk pauknya. :D

*****

0 komentar: