Selasa, 26 Agustus 2008

Ketika Ikhwan dan Akhwat Bersahabat

Bismillah…

“Katanya cuman sahabatan.”, kata saya ketika seorang teman sedikit bercerita tentang ‘sahabat’ perempuannya suatu ketika. “Dia nikah, kok kamu malah nge-drop gitu?”

“Ah, ngga tau lah.”, sang teman menghela nafas panjang. Lantas menghembuskannya dengan serta merta. Tak ada lanjutan. “Sesaat sebelum aku dapat undangan itu, aku masih mengira bahwa dia masih sahabatku. Tapi… Ah, entahlah… “, sang teman memalingkan wajahnya ke tayangan televisi di warung makan tempat kami makan malam. Berita pengadilan korupsi, lagi-lagi. “Sepertinya, sekarang ini aku baru sadar. Selama ini aku sedang membohongi diri sendiri. Awalnya mungkin saja aku anggap dia sebagai sahabat, tapi seiring kedekatan rupanya rasa itu tertumbuhkan juga.“, rasa itu, hmmmmmmm…

Kebersamaan. Kesenasiban. Kesalingtergantungan. Serasa. Sejiwa. Lantas setelah itu? Sekedar sahabat?

Kawan, adakah persahabatan yang murni ketika itu terjadi antara seorang perempuan dan lelaki? Antara seorang ikhwan dan akhwat? Hmm…

****

Lagi puyeng ah..

Lagi pengen rehat membahas nikah, akhwat dan yang sejenisnya.. hehe.. Kagak ada realisasinya. Malah makin puyen.. halah.. :D

0 komentar: