Sabtu, 28 Juni 2008

Jatuh Cinta (Sekedar) di Dunia Maya

Bismillah…

Tak bisa ditampik, bahwa dunia internet mampu mengantarkan dua insan ke pelaminan. Contoh kongkretnya adalah menikahnya sepasang MPers yang pernah dimuat di majalah Ummi edisi khusus pernikahan beberapa bulan yang lampau : Mba Titin dengan Kang siapa gituh(lupa euy. Ada yang tempe? Eh, ada yang tahu? :) ) Bahkan katanya, ada yang menikah diawali dari ‘sekedar’ chatting-an. Hmmm…. Tapi yang pasti, kalau yang mencari pacar via chatting, saya sudah terlalu banyak mendapatinya. Terutama yang terjadi pada para ABG.(Seperti yang diceritakan dalam novel terbarunya Mba Asma Nadia-serial Aisyah Putri)

Dunia internet, terutama yang saya soroti adalah dunia blog atau friendster dan yang semacamnya, merupakan dunia yang tak akan pernah lekang dari sebuah kabut pekat imajinasi. Jika ada yang mengatakan bahwa blog adalah dunia ekspresi pribadi dari sang pemilik blog, saya tentu tak akan membantahnya. Namun izinkanlah saya untuk menambahkan pernyataan ini. Dunia blog dkk. adalah dunia yang menunjukkan ekspresi positif(setidaknya menurut diri pribadinya) dari pribadi pemilik blog. Tidak secara keseluruhannya, dan karena itulah saya bilang dunia internet adalah dunia yang terlalu pekat dengan kabut imajinasi(jika sudah menyangkut mengenal pribadi). Seorang blogger sepertinya akan kecil kemungkinannya akan memuat hal-hal negatif dari pribadinya. Ambil contoh saja seperti dalam pemilihan foto diri yang akan di-publish di blog. Tentu foto yang dipajang adalah foto yang terbaik, dong. Foto yang memuat tampang cireng dan dodol tentu tak akan lulus sensor untuk dipublikasikan. Terkecuali emang, orangnya doyan banget sama dodol dan cireng, atau setidaknya agak-agak error lah. Heuheu… Begitu juga dengan tulisan. Sang blogger, akan sangat kecil kemungkinannya akan mempublikasikan pemikiran yang menurutnya akan merendahkan imej dirinya yang ingin dibangun. Dan ketika ada seorang teman yang juga seorang blogger juga mengatakan, “Saya jatuh cinta sama dia(menunjuk pada seorang blogger lainnya).” Dan ketika saya tanya apakah sudah pernah bertemu langsung dengan orangnya? Sang teman menggeleng. “Nggak, saya hanya baca tulisannya. Dan liat fotonya juga.” Hmmm…. Ya, saya juga seringkali merasakan hal yang sama. Saya suka tulisan si A, si B atau yang lainnya. Saya seakan jatuh cinta pula dengan sang penulisnya. Namun apa yang terjadi setelah mengenalnya di dunia nyata? Rasa itu bisa saja berubah, bahkan drastis. Karena menurut saya, ada aura tersembunyi yang terhalang oleh dinding internet. Satu contoh nyata adalah terjerumusnya seorang perempuan Indonesia yang menikahi seorang lelaki Belanda yang hanya bermodalkan kenal di internet. Kisah ini dituturkan ulang oleh Teh Pipit Senja dalam sebuah bukunya(saya lagi-lagi lupa apa judulnya).

Hmmm… Jika kita membayangkan sosok di balik internet(blog, fs, dkk.) maka sesungguhnya yang ada adalah sosoknya yang terbaik dari yang bisa kita bayangkan. Seperti layaknya membaca novel. Tampan dan cerdasnya seorang tokoh utama yang berdamping dengan kecantikan dan kelembutan hati seorang tokoh utama perempuan, adalah bayangan terbaik dari apa yang bisa kita bayangkan. Makanya, seringkali sebuah film yang diangkat dari sebuah novel best seller sekali pun, tak memenuhi harapan penikmat novelnya. Karena kenapa? Ya, karena setelah masuk ke dunia film, otomatis imajinasi sudah dibatasi. Sosoknya sudah dipatok jelas dengan wajah dan tubuhnya. Dan kekecewaan itu tak lebih dari karena tak terpenuhinya harapan dari imajinasi yang terbentuk sebelumnya di dalam benak.

“Loh, lantas bagaimana dengan ta’aruf?”, tanya seorang teman. “Bukannya kita berkenalan hanya melalui biodata? Itu kan hampir sama dengan internet. Hanya beda media.”

Ya, memang. Tapi ta’aruf memiliki instrumen yang tak dimiliki oleh berkenalan sekedar di internet. Di ta’aruf ada tatap muka secara langsung(hingga bisa menangkap aura penerimaan atau penolakan), ada pencarian informasi dari orang-orang terdekat, dan yang pasti ada orang ketiga yang menjaga kebersihan proses itu, selain pula sebuah niat yang bisa jauh lebih terjaga.

“Lantas, kamu mencoret sarana internet sebagai sebuah gerbang untuk menikah?”, tanya seorang teman chatting saya suatu ketika. Tentu saja tidak. Tapi jika sekedar bermodal kenal di internet, tanpa kenal di dunia nyata, saya fikir saya tidak akan pernah mengambilnya. Jujur saja secara pribadi, ada sebuah ketakutan dan kekhawatiran besar dalam diri saya, orang tersebut akan kecewa dengan diri saya dalam dunia nyata. Itu saja. Layaknya membeli kucing dalam karung. Heheh… bener ga sih istilahnya gini? :) Yah, itu saja sih...

*****

Inilah alasan saya yang kau minta ketika itu. Simpel sekali, kan? Hmmm... :)

0 komentar: